Senin, 01 Juni 2015

Seperti Inilah Keunikan Kampung Pelacur Rumahan Di Saradan Subang

loading...
Lamat-lamat bacaan Surat Yasin para jamaah tahlil musala di sudut Jalan Kampung Saradan, Pagaden, Subang, Jawa Barat, itu baru saja rampung. Namun pemandangan ganjil justru nampak di dekat pintu masuk kampung itu. Di sana ada rumah dipacak dengan lampu kerlap-kerlip, plus hiburan musik dangdut yang dentumannya memekakkan telinga. Suaranya seperti tak mau kalah dengan ngorok kodok di area persawahan dekat rumah itu.


Kamis kemarin kebetulan malam Jumat, dimana hampir setiap musala dan masjid kampung di sana rutin diramaikan dengan ritual Yasinan dan tahlil warga. Sebenarnya bukan hanya di kampung itu, tapi hampir di setiap sudut kota, umat muslim juga melakukan amalan serupa. Tetapi di balik kekhusyukan warga Kampung Saradan, aroma lendir justru kental menempel di kampung itu.

Saking terkenalnya, jangan heran jika kendaraan berplat B (Jabodetabek) menanyakan nama kampung itu, maka mata warga yang melihat terasa penuh curiga. Mereka seperti sudah mafhum, jika si penanya pasti punya hajat buat menyalurkan syahwat. Maklum di kampung itu terdapat prostitusi rumahan berisi para pelacur belia. Usianya dari 16 sampai 20 tahun.




"Kalo nanya kampung sini semua orang udah pada tahu karena banyak kupu-kupu malamnya," kata pelacur belia berinisial Y saat berbincang di sebuah cafe di Kampung Saradan, Kecamatan Pagaden, Kamis malam pekan kemarin.

Jalan menuju masuk desanya memang tak ramai. Melintasi areal persawahan dan perumahan warga membuat kampung ini seolah jauh dari ingar bingar gemerlap dunia prostitusi. Apalagi, jaraknya dari Kota Subang terbilang dekat, hanya 15 menit. Namun, di balik teduhnya desa ini para pemburu syahwat sudah mafhum bila setiap rumah di sudut kampung itu menyediakan tempat penyalur syahwat.

Rumah itu di miliki wanita berusia 45 tahun, sedangkan suaminya masih muda, berumur sekitar 26 tahun. "Itu suaminya yang tadi bukain pintu," kata U, seorang mucikari berusia 45 tahun yang mengantarkan ke prostitusi rumahan itu.

Sekilas rumah itu memang biasa saja. Tak terlihat jika di dalamnya biasa digunakan buat praktik prostitusi. Ada dua rumah di tempat prostitusi itu. Rumah pertama berwarna putih bertingkat dua dihuni oleh pemiliknya. Sedangkan satu lagi, rumah bercat oranye itu merupakan tempat prostitusi.

Di dalamnya ada tiga kamar lengkap dengan perabotan ditambah dengan DVD dan salon aktif. Masing-masing kamar sudah dilengkapi dengan kasur dibungkus seprei. "Tenang kalau di sini aman," ujar U menjamin.

Perkataan U memang benar adanya. Jangankan ada warga datang untuk menegur. Bahkan orang lewat pun tak terlihat. Padahal dentuman musik dangdut terdengar lumayan keras dari luar rumah.

Bisnis Prostitusi ini memang telah berlangsung lama. Bahkan saking terkenalnya nama rumah disebut cafe itu pun tak asing bagi warga Subang. Ada yang unik di tempat prostitusi rumahan Kampung Pendeuy, Kabupaten Subang, ini. Pemburu syahwat tak bakal menjumpai pelacur di rumah merangkap cafe itu. Para pelacur bakal datang jika ada tamu. Itu pun setelah ditelepon untuk datang.

Seperti Y, pelacur masih menjalani pendidikan sekolah menengah pertama itu datang. Hanya lima menit, Y datang diantar menggunakan sepeda motor. U, mucikari merangkap jawara kampung itu punya stok pelacur berusia 16 sampai 20 tahun lumayan banyak. Dia mampu menyediakan 20 pelacur sekali datang. "Semua tinggal telepon, mau yang kaya gimana akang-akang," ujarnya sambil menekan tombol seluler.

Melacur Di Restui Orang Tua
Pengakuan mengejutkan ini terlontar dari bibir Y, pelacur berusia 16 tahun asal Desa Saradan, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Saat ditanya apakah orangtuanya tahu dia melacur, Y menjawab, "(orangtua) Tahu saya di cafe sini."

Beberapa menit kemudian, telepon selulernya berdering. Y buru-buru mengangkat handphone merek Nokia dari genggamannya. Dia mengaku ditelepon oleh ayahnya menanyakan keberadaannya. "Di sini," katanya singkat sambil menyebut nama cafe di mana dia berada.

Malam itu, Y diberi kabar adiknya yang berusia 10 bulan sedang sakit. Dia lantas menyuruh ayahnya membeli obat di apotek. Lantaran ayahnya tak ada uang, Y menjamin jika nanti bakal diganti setelah pulang dari cafe itu. "Beli dulu salepnya, nanti diganti," kata Y menjawab dengan logat sunda.

Ironis memang mendengar pengakuan Y, jika profesinya menjadi pelacur diketahui sang ayah. Apalagi, Y juga mengaku jika mendengar dirinya mabuk, sang ibu hanya merespon datar. "Paling ditanya kamu mabuk ya," ujarnya ketika dia meminta permen untuk menghilangkan bau bir.

Sekilas, Y memang tak seperti gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Wajahnya manis dengan tinggi sekitar 150 sentimeter. Perawakannya kecil. Ketika datang di cafe itu, Y menggunakan sandal berhak tinggi. Awalnya dia malu-malu. Namun, setelah setengah jam berkenalan, dia baru mulai banyak berbicara.

Sambil menyalahkan rokok, Y mencoba mencairkan suasana. Dia memang risih, mengingat cuma dia wanita sendirian di cafe itu. Dia pun menawarkan temannya agar ikut disewa dan hadir menemani Y.

"Biar tambah ramai, satu lagi ya. Ini kasihan musiknya enggak ada yang dijogetin," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama house musik dangdut penyanyi Citacitata 'Sakitnya tuh di sini'.

Memang mendengar pengakuan Y lumayan mengagetkan, tapi begitulah faktanya, prostitusi rumahan di sudut Kota Subang, Jawa Barat, terjadi. U, seorang mucikari merangkap Jawara kampung sudah mafhum benar jika banyak orang dari Jakarta datang untuk mencicipi pelacur asal Desa Saradan.

Bahkan, kata dia, orang-orang di desanya juga tak pernah mengusik keberadaan pelacuran di kampungnya. "Di sini biasa saja apalagi kalau jalannya sama saya, enggak ada yang berani rese," kata U. Paling mencengangkan, kata U pemuka agama di kampungnya juga sejauh ini tak pernah menegur.
Fakta itu memang benar adanya, jangankan ada orang mengusik untuk datang ke cafe itu, orang lewat di depan rumah prostitusi itu pun juga tak terlihat. Maklum tempat itu berada di pojok kampung. Hanya ada satu rumah dekat cafe itu. Jalan menuju rumah prostitusi itu pun belum diaspal. Warga yang melihat mobil maupun motor lalu lalang menuju rumah itu pun tak direspon.

Entah alasan apa, prostitusi rumahan di dalam Kampung Saradan itu tak pernah ditutup oleh warga sekitar. Padahal secara nyata, aktivitas berbau lendir itu justru mengotori nama kampungnya. "Sejauh ini belum pernah ada, malah warga menahan aparat ketika hendak melakukan razia di kampung saradan," terang U.
loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

2 comments

VIMAX PEMBESAR PENIS CANADA



Bikin Penis Besar, Panjang, Kuat, Keras, Dengan Hasil Permanent



isi 30 cpsl Untuk 1Bulan Hanya.500.000;



Promo 3 Botol Hanya.1.000.000;



ANEKA OBAT KUAT EREKSI DAN T.LAMA 



 PERANGSANG WANITA SPONTAN



( Cair / Tablet / Serbuk / Cream) 5Menit Reaksi Patent.

Sangat Cocok Untuk Wanita Monopouse/ Kurang Gairah.





ANEKA COSMETIK BERKWALITAS TERBAIK



( Pelangsing Badan, Pemutih Muka & Badan, Flek Hitam,

Jerawat Membandel, Gemuk Badan, Cream Payudara,

Obat Mata Min/ Plus, Peninggi Badan, Cream Selulit,

Pemutih Gigi, Pembersih Selangkangan/ Ketiak,

Pemerah Bibir, Penghilang Bekas Luka, Perapet Veggy,





 ALAT BANTU SEXSUAL PRIA WANITA DEWASA 



 tlp: 0822 2121 8228 BBM.24CEE3AE MR.SHOLE



































































.....

Terima Kasih

Pengikut