Selasa, 01 September 2015

Wibawa Wanita Dan Eksotisme Tapa Wuda Sinjang Rikma

loading...
Ketika pertama kali saya memegang biografi Ratu Kalinyamat, terbersit kekaguman dan penghormatan yang begitu tinggi, yang saya rasakan ketika menyimak tapak demi tapak kebesarannya sebagai salah satu raja di Jawa. Barangkali jika sedikit menarik waktu ke belakang, saya juga akan menjumpai pemimpin-pemimpin wanita di Jawa seperti Ratu Shima dari Mataram Kuna, Tribhuwana Tungga Dewi dari Majapahit, atau Prajna Paramita (Ken Dedes), istri Ken Angrok dari Singhasari. Akan tetapi tetap saja ada perasaan lain ketika saya  bersentuhan dengan sosok Ratu Kalinyamat yang memerintah di zaman Islam ini. Ada sesuatu yang agung dan sakral di sana.


Ratu Kalinyamat, sebagaimana dituturkan dalam beberapa babad –Babad Demak, Babad Demak Jilid II, Babad Tanah Jawi, Serat Kandhaning Ringgit Purwa, dan sumber lainnya- merupakan puteri Sultan Trenggana. Sumber-sumber tersebut mengidentifikasi Ratu Kalinyamat sebagai Retna Kencana yang menikah dengan Kyai Wintang. Akan tetapi kebanyakan sumber –termasuk sumber asing- menyebut Ratu Kalinayamat sebagai Ratu Pembayun. Sebutan ini memiliki kesamaan dengan apa yang dikatakan Fernao Mendes Pinto dalam bukunya Peregrinacao. Nyai Pombaya, duta Sultan Demak, yang ia temui di Banten pada tahun 1544, dikatakannya sebagai bangsawan tinggi dan kemungkinan yang dimaksud sebagai Nyai Pombaya tersebut adalah Ratu Pembayun, Ratu Kalinyamat. Ia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian gagah berani seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang berarti “seorang wanita yang pemberani.” Gelar Ratu yang disematkan menunjukkan Ratu Kalinyamat sebagai putri yang berkedudukan tinggi. Gelar tersebut ia peroleh karena ayahnya merupakan seorang raja, bukan dari suaminya yang hanya seorang penguasa daerah setingkat adipati.

Jepara merupakan daerah yang mempunyai peran penting dalam sejarah terutama pada abad XVI, yaitu pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat adalah raja dari Jepara yang memerintah dari tahun 1549 hingga 1579. Abad XVI dipergunakan untuk menetapkan hari jadi Jepara yang jatuh pada tanggal 10 April 1549. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pusat ekonomi sekaligus memegang peranan penting dalam bidang politik dan pertahanan. Jepara merupakan kota yang ternama sebagai bandar perdagangan sehingga menarik pedagang dari berbagai suku dan bangsa untuk tinggal sementara maupun menetap. Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara dikenal sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekpedisi militer untuk meluaskan kekuasaan ke Bangka dan Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe. Bukti kebesaran Jepara terlihat pada tahun 1550, ketika Raja Johor meminta bantuan armada perang kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1000 orang prajurit bersenjata. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugis di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal masing berbobot 400 ton.

Tempat-tempat petilasan dan makamnya dikeramatkan, meskipun berdasarkan catatan sejarah, petilasan tersebut sebenarnya bukanlah situs peninggalan Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai seorang putri yang molek, cerdas, berani dan setia kepada suami. Tak heran jika akhirnya wanita tersebut memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara.

Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan, namun ada cerita lain menyebutkan berada di daerah Mantingan. Suami dari Ratu Kalinyamat yaitu Pangeran Hadiri putera Sultan Ibrahim dari Aceh. Pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Sang suami gugur oleh suruhan Arya Penangsang dalam perjalanan dari Prawata ke Jepara. Arya Penangsang membunuh suami dan kakak Ratu Kalinyamat karena memperjuangkan hak-haknya dan membalas dendam atas terbunuhnya ayah dari Arya Penangsang yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen.

Ratu Kalinyamat, Sang Rainha da Jepara senbora pederose e rica
Ratu yang dilukiskan Diego de Couto sebagai Rainha da Jepara senbora pederose e rica (Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa) memerintah Jepara selama 30 tahun, dan mampu membawa Jepara ke puncak kejayaan. Dari sumber berita Portugis diketahui bahwa Ratu Kalinyamat –yang juga dikenal sebagai Nyai Pombaya- berperan dalam perjalanan militer untuk menyerang Pasuruan, Jawa Timur, yang masih dikuasai Raja Hindu. Beliau merupakan seorang duta yang membawa misi politik guna kepentingan konsolidasi kekuasaan sultan. Amanah yang diembannya bukanlah ter-temurunkan tanpa disengaja. Ayahnya, Sultan Trenggana, mendidiknya sebagai tokoh wanita yang memiliki karakter pemberani, tegas, berwibawa, dan bijaksana. Perannya pun semakin menonjol ketika terjadi kemelut di istana Demak pada pertengahan abad XVI yang disebabkan oleh perang suksesi sepeninggal kematian Sultan Trenggana. Sejak itulah, nama Ratu Kalinyamat menduduki tempat tersendiri dalam panggung sejarah Indonesia, khusunya sejarah Jawa.

Kebesaran nama Ratu Kalinyamat tetap tidak mampu mengingkari kodrat yang ia jalani sebagai seorang wanita. Setelah suami dan saudaranya dibunuh akibat perebutan tahta, wanita yang memiliki sifat keras hati dan tidak mudah menyerah pada nasib ini melakukan mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang minangka tapih remanipun kaore (bertapa dengan telanjang di gunung Danaraja, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai). Tindakan Ratu Kalinyamat yang dilukiskan oleh Babad Tanah Jawi tersebut dilakukannya untuk memohon keadilan kepada Tuhan dengan menyepi di Gunung Danaraja. Ia bertekad, baru akan mengakhiri pertapaannya apabila Arya Penangsang telah terbunuh.

Keberhasilan misi ekonomi yang diemban Ratu Kalinyamat selama kepemimpinannya terlihat melalui perkembangan Jepara sebagai kota pelabuhan penting. Pada masanya, pelabuhan Jepara merupakan pelabuhan yang baik bagi dunia pelayaran karena mampu menampung kapal besar bermuatan 200 ton lebih. Ratu Kalinyamat juga mengembangkan industri galangan kapal yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar yang melibatkan arsitek, tukang kayu, dan para pekerja kasar. Pengembangan industri galangan kapal dimaksudkan untuk pengembangan perdagangan seberang laut dan pelayaran serta memperkuat armada angkatan laut. Bisa dibilang, masa pemerintahan Ratu Kalinyamat merupakan periode penting bagi perkembangan bidang industri perdagangan. Ia juga dikenal sebagai pedagang kaya berkat berlakunya sistem comenda dalam pelayaran dan perdagangan waktu itu, ditambah pula dengan dibukanya empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur: Jepara, Juana, Rembang, Lasem, pada masa pemerintahannya. Kemajuan sektor perekonomian juga didukung oleh kegiatan industri kerajinan tangan berupa ukir-ukiran seperti seni ukir kaligrafi Arab. Salah satu ukiran khas Masjid Mantingan yang didirikan di lingkungan keraton Kalinyamat adalah hiasan bunga-bunga teratai terbayang siluet seekor gajah atau seekor kera, atau bahkan seekor kepiting, yang kesemua bentuk makhluk hidup tersebut disamarkan, mengingat kaidah Islam melarang penggambaran makhluk yang bernyawa.

Hubungan internasional yang dijalin Ratu Kalinyamat pun merambah hingga Banten. Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya, juga karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan. Ratu Kalinyamat juga berhasil mengembangkan hubungan antara Jepara dengan daerah luar Jawa seperti Maluku, Aceh, Malaka, dan Johor. Di daerah-daerah tersebut Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh yang berperanan besar dalam melawan dominasi asing di wilayah Nusantara. Penguatan sektor perdagangan dan angkatan laut juga dilakukan Ratu Kalinyamat, sebagaimana terlihat dalam ekspedisi militernya ke Malaka di tahun 1551 hingga permohonan para pemimpin laut atau pedagang Ambon di Hitu kepadanya untuk melawan orang-orang Portugis dan suku Hative di Maluku. Kegigihannya dalam mengusir pihak-pihak asing di berbagai wilayah di Nusantara bertujuan untuk membela kepentingan perdagangan suku-suku bangsa dari berbag210-800x450ai daerah.
Selama berkuasa di Jepara, Ratu Kalinyamat diperkirakan tidak tinggal di Kalinyamat, akan tetapi menetap di suatu tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara yang disebut dengan koninghof. Tidak diketahui secara pasti kapan Ratu Kalinyamat meninggal. Ia dimakamkan di dekat suaminya di kompleks pemakaman Mantingan. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Kalinyamat baru saja meninggal. Dalam mihrab masjid yang terdapat dalam makam Kalinyamat ditemukan candra sengkala “rupa brahmana warna sari” yang dapat ditafsirkan sebagai tahun 1481 ?aka atau 1559 Masehi. Sepeninggalnya, Jepara dipimpin oleh putera angkat Ratu Kalinyamat, Pangeran Japara.
loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Pengikut