Sabtu, 16 Mei 2015

Prostitusi Online ABG Klaten Melalui Media Sosial Facebook

loading...
Praktik prostitusi online tumbuh subur seiring dengan perkembangan Internet di Indonesia. Dengan menggunakan kemudahan teknologi, bisnis penjaja seks itu menawarkan hal baru. Yakni keamanan dan privasi. Sebab, penggunanya tidak perlu berkeliaran ke jalanan. Cukup dengan membuka situs atau mengontak langsung sang pelacur melalui akun media sosial, membikin janji, lantas syahwat terpuaskan. Apalagi transaksi dilakukan secara elektronik. Ada juga pelacuran dunia maya dikelola mucikari.


Teknologi Internet juga menjadikan praktik pelacuran daring seolah menghapus batas dan sekat wilayah. Bisa saja penjaja seks luar negeri diimpor atau sebaliknya.

Tak hanya di Jakarta atau kota besar lainnya, bisnis prostitusi daring (online) juga marak de daerah. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, seorang mucikari bernama AN (43 tahun), warga Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Utara dikabarkan telah menjual belasan gadis di bawah umur melalui akun media sosial Facebook.

Saat Satpol PP menggelar razia, Selasa (12/5) siang, mereka berhasil menjaring perempuan berinisial MG (16 tahun). Dia salah satu penjaja seks kedapatan sedang berduaan dengan EP (48 tahun), lelaki asal Yogyakarta. MG yang berusia di bawah umur itu tertangkap dalam razia dilakukan di sejumlah hotel di wilayah Klaten.

"MG ini kami tangkap saat sedang berkencan dengan pasangan yang baru dikenalnya lewat Facebook di hotel M," kata Plt Satpol PP Klaten, Rabinan.

Rabinan menambahkan, pihaknya akan gencar melakukan razia seperti itu. Pihaknya akan memberikan pembinaan kepada para pelacur tertangkap. Terkait masalah hukum, pihaknya menyerahkan urusan itu kepada Polres Klaten.

Sementara itu, kepada wartawan MG mengaku selama dia melakoni pekerjaan itu, transaksi dilakukan melalui perantara seorang mucikari yang kerap disebut mami. Mami itu juga mengelola grup Facebook khusus menjajakan jasa pemuas syahwat dengan nama 'Ciblek Klaten'. Akun tersebut, kata dia, memang dikhususkan bagi para lelaki hidung belang.

"Saya transaksinya lewat mami melalui Facebook. Setelah deal, baru dilakukan jumpa darat. Biasanya saya dan pelanggan bertemu di hotel sekitar kota Klaten," kata MG.

MG mengaku menjalani profesi sebagai penjaja seks sejak dua tahun lalu. Perempuan asal Blora, Jawa Tengah itu minggat dari rumah, setelah kedua orang tuanya bercerai. Dia memilih terjun sebagai pelacur dengan dalih terpaksa karena desakan kebutuhan.

"Kedua orang tua saya bercerai empat tahun lalu. Setelah itu saya minggat ke Klaten," ujar MG.

Dia mengaku selama ini mendapatkan pelanggan dari kenalan lewat grup Facebook dengan akun 'Ciblek Klaten'. Grup itu beranggotakan belasan wanita nakal dikelola AN. MG menambahkan, saban kali kencan dia hanya dibayar sebesar Rp 200 ribu. Sementara tarif hotel digunakan biasanya berkisar Rp 70 ribu per harinya.

Rabinan mengatakan, pihaknya akan terus menyelidiki kasus prostitusi daring di wilayah kerjanya. "Kami akan terus mengembangkan dan menyelidiki kasus ini, tentu bekerjasama dengan kepolisian. Termasuk juga akan memburu AN, sang mucikari," tambah Rabinan.
loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Pengikut